Mamuju – Petani kopi di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) membutuhkan perlindungan harga untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi serta meningkatkan kesejahteraan petani.
“Animo petani untuk menanam kopi sebenarnya sangat tinggi, namun karena petani kopi sebagai produsen tidak menerima manfaat besar dalam menjual hasil tanaman kopinya,” kata Direktur Pusat Riset Kopi dan Kakao (Puriskoka) Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman), Harli A Karim di Mamuju, Sabtu.
Ia mengatakan kopi hasil produksi petani di Sulbar masih dihargai dengan harga yang sangat rendah, padahal seharusnya mereka bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.
“Hasil penjualan kopi petani hanya sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu perliter, sementara ketika kopi di sejumlah cafe dan restauran dijual dengan harga yang sangat tinggi untuk setiap gelasnya,” katanya.
Oleh karena itu ia mengatakan, perlu ada intervensi pemerintah dalam menjaga harga kopi petani agar petani tidak jenuh menanam kopi dan mendapatkan keuntungan selain itu produksi kopi Sulbar tetap terjaga.
“Seharusnya harga kopi di tingkat petani bisa lebih tinggi jika merujuk permintaan kopi dalam dan luar negeri yang semakin tinggi, ” katanya.
Ia meminta agar pasar penjualan petani ditata pemerintah karena kopi Sulbar kualitasnya sangat bagus diminati baik di dalam negeri hingga ke Eropa. (Ant)



