Mamuju – Karantina Pertanian Mamuju Provinsi Sulawesi Barat kurun waktu tiga tahun terakhir, yakni pada periode 2019 hingga 2021, telah menerbitkan sertifikat terhadap 2.423 ton komoditas beras yang keluar dari daerah itu.
“Berdasarkan data yang kami peroleh dari sistem automasi karantina IQ Fast, selama tiga tahun terakhir, Karantina Pertanian Mamuju telah menerbitkan 2.423 ton beras yang ke luar dari Sulbar,” kata Kepala Karantina Pertanian Mamuju Agus Karyono, Senin.
Secara rinci, Agus Karyono menyampaikan, 2.423 ton komoditi beras itu, yakni sebanyak 334 ton pada 2019, tahun 2020 sebanyak 942 ton dan pada 2021 sebanyak 1.147 ton, dengan rata-rata tujuan pengiriman ke Pulau Kalimantan.
“Ini menunjukkan bahwa Sulbar telah mampu mencukupi kebutuhan beras sendiri,” terang Agus Karyono.
Ia menyatakan penerbitan sertifikat tersebut merupakan jaminan bahwa beras yang telah keluar dari Sulbar memiliki kualitas dan telah terjamin kesehatannya sebagai pangan nasional.
Sebelumnya, yakni pada Minggu (14/8) Indonesia memperoleh penghargaan dari Lembaga Internasional Pusat Penelitian Beras Dunia, International Rice Research Institute (IRRI) atas pencapaian selama tiga tahun terakhir mampu mencapai swasembada beras.
Penghargaan ini diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, di Jakarta pada Minggu (14/8).
IRRI menilai, Indonesia mencapai swasembada karena mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok domestik dalam hal ini beras lebih dari 90 persen.
Diketahui, produksi beras nasional dari tahun 2019 konsisten berada di angka 31,3 juta ton sehingga berdasarkan hitungan BPS jumlah stok akhir bulan April 2022 tertinggi di angka 10,2 juta ton.
Agus Karyono menilai, capaian itu tidak terlepas dari kontribusi Kantor Karantina Pertanian Mamuju dan Provinsi Sulbar.
“Karantina Pertanian Mamuju dan Provinsi Sulbar telah berkontribusi pada swasembada beras nasional,” kata Agus Karyono. (Ant)




